Monday, October 3

Akal Bulus Polisi Jadi-jadian Kawal Penyelundupan Sabu-Sabu ke Pekanbaru

Kapolda Riau Irjen Agung Setya Imam Effendi nampak mengeleng-gelengkan kepala saat terlibat perbincangan dengan Simson Siahaan di lobi Mapolda, Senin petang, (9/11/2020). Pria bintang dua itu minta sang pengantar sabu-sabu tidak mengulang tindakannya kembali.

“Jangan ngaku selaku polisi kembali ya,” kata Agung ke polisi gadungan itu.

Simson adalah kaki tangan jaringan peredaran narkoba di Riau. Dari komplotannya, polisi mengambil alih 20 kg sabu-sabu dalam paket susu cokelat.

Sabu-sabu itu dibawa dua pengantar, Hendra serta Syamsul Bahri dari Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis ke arah Pekanbaru. Menggunakan satu mobil, Hendra pada akhirnya menjumpai ajal sesudah ditembak sebab menantang petugas.

“Simson ini selaku pengaman atau pengontrol perjalanan Hendra serta Syamsul,” kata Agung.

Akui selaku polisi, Simson memberikan keyakinan Hendra serta Syamsul jika jalan arah Pekanbaru telah aman. Simson menyebutkan beberapa orang juga menjaga jalanan.

Menurut Agung, komplotan Simson bersama terpidana di Lapas Pekanbaru, Sabaruddin Effendi, telah 3x punya niat mamasok sabu-sabu dari Bengkalis ke Pekanbaru.

2x juga mereka menangguhkan kemauan sebab personil Polda Riau kerap ungkap peredaran narkoba di Dumai, Rokan Hulu sampai Bengkalis.

“Ini yang ke-3 sesudah dua kemauan awalnya mereka takut,” sebut Agung.

Kecuali akui polisi, Simson mengubah plat nomor kendaraan mobilnya jadi plat polisi. Ini jadi trick-nya mengelabui petugas yang telah berapa minggu mengincar gerak-gerik terdakwa bersama komplotannya.

“Mobil terdakwa telah diambil alih selaku tanda bukti, ia mengubah pelatnya jadi pelat dinas polisi,” sebutkan Agung.

Agung menyebutkan Simson adalah masyarakat Kabupaten Pelalawan. Ia ketangkap sesudah Hendra serta Syamsul Bahri dihadang diperjalanan dari Bengkalis ke Pekanbaru.

Sesaat Sabaruddin Effendi, penyidik tidak berhasil minta info sebab telah lebih dulu wafat. Info ini didapat sesudah penyidik bekerjasama dengan Lapas Pekanbaru.

“Sabaruddin adalah tahanan masalah narkoba , saat sebelum wafat alami muntah darah,” kata Agung.

Terpisah Plt Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru Alfonsus Wisnu Ardianto mengaku benar ada masyarakat binaan wafat. Awalannya, Alfonsus tidak paham jika Sabaruddin terjebak peredaran narkoba kembali.

“Benar ada yang wafat, baru mengetahui jika terjebak narkoba,” kata Alfonsus.

Polisi menyergap home industri ekstasi di Cibinong Bogor. Polisi sukses ungkap jaringan narkoba yang dikebdalikan dengan seorang api di Gunung Sindur.

error: Content is protected !!