Saturday, September 18

Mengenang Ribuan Korban Perang di Ereveld Pandu Bandung

Oorlogsgravenstichting Indonesie atau Yayasan Pusara Kehormatan Belanda di Indonesia mengadakan peringatan bersama kenang kembali korban perang di kompleks Ereveld Pandu, Kota Bandung, pada Selasa (10/11/2020). Aktivitas ini dituruti Komune Barisan Anak Rakyat (Lokra) serta pelajar.

Direktur Yayasan Pusara Kehormatan Belanda Robbert van de Ridjt ikut mengikut acara dimulai dari upacara sampai taburi bunga di muka pusara korban perang itu selaku wujud lambang perdamaian serta pertemanan di antara Indonesia serta Belanda dalam peristiwa Hari Pahlawan Nasional.

Di Ereveld Pandu sendiri ada 3.842 korban perang waktu periode penjajahan Jepang serta Invasi Militer Belanda pada 1945-1949. Beberapa korban yang luruh, baik dari Indonesia atau Belanda saat itu.

“Kita tidak dapat mengganti riwayat sebab riwayat terjadi, tapi kita harus belajar pada itu. Serta berikut dari hasil perang (korban nyawa). Sekitar 80 % ada sipil di sini (Ereveld), serta 20 % ialah dari faksi militer,” kata Robbert.

Lebih jauh Robbert menjelaskan, di Indonesia ada tujuh Ereveld. Di seluruh pusara kehormatan Belanda itu terbujur lebih dari 25.000 korban perang baik dari masyarakat sipil atau militer. Ke-7 Ereveld itu ada di Menteng Pulo (Jakarta Selatan), Ancol (Jakarta Utara), Pandu (Bandung), Leuwigajah (Cimahi), Kalibanteng serta Candi (Semarang) serta Kembang Kuning (Surabaya).

Robbert mengutarakan, korban perang tidak cuman dari faksi Belanda. Tetapi, ada juga dari beberapa negara lain bahkan juga terhitung Indonesia.

“Menjadi peringatan ini untuk mengingati beberapa korban dari perang yang berjatuhan. Agar kita dapat ambil pelajaran bisa juga menyaksikan imbas dari perang apa itu. Tidak cuma Indonesia di Belanda beberapa korban,” katanya.

Lewat acara ini, Robbert juga pengin sampaikan pesan penting jika senjata adalah musibah untuk umat manusia. Dengan menyertakan pelajar, komune, serta masyarakat diinginkan sanggup memberi pengetahuan supaya tiap orang untuk memprioritaskan diskusi atau diplomasi dalam penuntasan tiap perselisihan.

“Saya pikir pada umumnya, kita harus memeringati serta riwayat terjadi. Angkatan baru diinginkan dapat belajar pada kekeliruan dari masa lampau. Serta kami berpikir memeringati bersama akan membuat jalinan kita lebih bagus, memberi pengetahuan yang lebih bagus,” katanya.

Pendiri Lokra Gatot Gunawan menjelaskan acara ini bersamaan dengan Hari Pahlawan Nasional. Sesudah taburi bunga di Ereveld, faksinya mengadakan aktivitas sama di Taman Pusara Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung.

Tempat parkirkan kantor di teritori Arcamanik, Kota Bandung, disihir jadi petak pertanian hidroponik. Di halaman gedung perkantoran yang dinamakan Jodirexa Building itu, Jodimarlo pindah usaha selaku penjual juice pakcoy.

error: Content is protected !!